KISAH PRAJURIT YANG HILANG DI PULAU TAK BERPENGHUNI, DI NEGERI SERIBU PULAU

Posted on

Misteri memang selalu membuat kita menjadi penasaran. Alih-alih mencoba menceritakan sebuah kisah dimana tidak banyak orang tau tentang kisah yang akan saya ceritakan ini. Mohon maaf apabila dalam penulisan banyak tokoh atau letak dimana pulau ini berada, tidak saya jelaskan sangat detail. Dikarenakan kurangnya informasi yang penulis dapat dari sumber. Dan penulis disini hanya mengibaratkan sebagai tokoh utama yang mana didapat dari beberapa sumber informasi. Mungkin bila pembaca mendapatkan info tentang pulau ini lebih detail bisa mengirimkan cerita di email 2al-tech.info.

Pagi hari yang cerah selepas melaksanakan tugas jaga perbatasan di sebuah pulau besar, saya bersama anggota mulai berfikir untuk melaksanakan pesiar(jalan-jalan) kesuatu tempat. Salah satu dari rekan pun bercerita tentang sebuah pulau, dimana di pulau tersebut bila dilihat dari jauh sangatlah indah untuk disaksikan. ” Saya kemarin bertanya pada orang kampung sini dimana tempat wisata yang bagus, kemudian orang-orang bilang kita disuruh kekota, ahh tapi saya bilang, saya ingin kepulau yang diujung sana itu. eh malah mereka seperti tidak menyarankan kita untuk kesana. mungkin mereka fikir kita takut, hahaha” kata edi. Edi adalah salah satu rekan saya yang merencenakan kemana kita akan melaksanakan pesiar. Kemdian tawa riuh yang lain membuat Aku berfikir apa mungkin kita akan kesana. Karena dari cerita masyarakat sekitar, sangatlah tidak mungkin untuk menuju kesana. Pulau ini berada di ujung perbatasan pulau besar yang kami jaga. Kalian mungkin tahu dimana pulau besar tersebut. “Mengapa kita tidak mencoba untuk pergi kesana, dan membuktikan semua itu hanya mitos” sambung parno. ” Ya, saya setuju kalau kita mencoba untuk pergi kesana, Bagaimana Ru?” sambut hendra. Ru adalah panggilan danru kepada saya, karena jabatan saya memang danru. ” Hmm Bagaimana ya? kita ini kan perantau, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi disana. lebih baik kita urungkan saja niat kesana” sahut saya. ” tapi kan kita sudah sering ke kota¬† ru, apa nggak sekali-kali kita coba ketempat yang baru, pulau itu misalnya.” sambung edi. ” Baiklah nanti saya akan mencoba ijin dulu, kalau misal diijinkan kita berangkat. Bagamana?” sahut saya. akhirnya semua setuju untuk menuju kesana, tapi dengan syarat bila kita diijinkan untuk pergi kesana.

Saya mencoba melaporkan apa yang diinginkan semua teman-teman untuk melaksanakan pesiar bersama-sama. ” Ijin ndan, apakah kami diijinkan untuk melaksanakan pesiar?” ” mau kemana Emangnya?” kata komandan. “rencana kami akan pergi kepulau diujung sana ndan” sahut saya. “silahkan, yang penting tepati waktu kembali, setelah¬† kembali laporan” jawab komandan. “baik kami laksanakan”, sahut saya. Kemudian saya menyampaikan kepada teman-teman bahwa kita semua diijinkan untuk menuju pulau tersebut. Selanjutnya kami mulai bersiap dengan membawa bekal, karena takutnya karena tidak berpenghuni tidak ada yang menjual makanan disana. Setelah semua siap kami semua berkumpul di pintu gerbang depan pos penjagaan. Saya mengecek satu-persatu siapa saja yang ikut dalam perjalanan pesiar tersebut. Akhirnya kami berjumlah 8 orang akan berangkat menuju kesana. Jarak dari pos penjagaan menuju kesana dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 20 menit. Karena disana untuk transportasi bisa dikatakan sulit sekali. Tanpa aba-aba kami semua berjalan menuju pesisir pantai, dalam perjalanan sayapun gelisah dengan memikirkan berbagai macam efek yang paling jelek sampai bayangan yang paling bagus dipulau tersebut. Entah mengapa saya semakin takut untuk menuju kesana, sayapun mulai mencoba menghilangkan rasa takut dengan mengajak mengobrol si edi. “Ed?, kau dapat info dari siapa ada pulau disana?”. “kemarin saya mengobrol saat jaga dengan warga sekitar ini, kemudian dia bilang ada tempat bagus di pesisir pantai, tetapi kita harus menyebrang kepulau itu, ru” jawab edi. oh ya sebelumnya saya jelaskan nama suku daerah yang saya jaga, namanya suku Dxxxx. suku yang terkenal dengan magisnya. ” kau yakin ed kita akan menuju kesana?, kau tahu kan kita sedang berada dimana? salah-salah mati kita.” sambungku. “tenang ru, menurut informasi, asal kita tidak melakukan sesuatu kita aman sampai kembali.” katanya. “maksudmu sesuatu apa?” kataku. “saya juga belum terlalu paham ru, sesuatu yang dimaksud. Nanti kita tanyakan saja kalau kita sudah mau menyebrang ru.” sahutnya. “okelah, yang penting kau yang tanya, sedetail mungkin, jangan sampai kita malah merugi. ada apa-apa lagi dengan kita” kataku.

Akhirnya kita sampai di daerah pesisir pantai, kulihat banyak kapal kecil nelayan yang berada disana. Entah mengapa aku semakin gelisah, untuk menuju kesana. Ragu? iya, Takut? mungkin, itulah yang aku rasakan dan aku fikirkan. kemudian edi mulai bertanya kepada nelayan disekitar sana. “pak? kepulau di ujung sana berapa?” tanyanya. “pulau mana pak?” tanya nelayan itu balik. “yang itu pak!” kata edi. “yang diujung sana itu pak?” katanya. memang kulihat jaraknya agak lumayan jauh dari pesisir. “iya pak.” kata edi. “ah gak pak, saya gak mau kesana pak” kata nelayan tersebut. aku berfikir, apa karena jauh dia gak mau ya. “loh kenapa pak? kita bayar kok pak, lagian kapal bapak muat untuk kami berdelapan” sahut si edi. “saya tetap tidak mau pak, bapakmau bayar saya mahalpun saya gak mau.” kata nelayan. Aku mulai curiga, ada apa sebenarnya dipulau tersebut hingga nelayan pun enggan kesana. aku mencoba menenangkan edi, dan mulai bertanya pada nelayan tersebut. “pak, emang ada apa ya pak dipulau tersebut, hingga bapak tidak mau mengantar kami?, bukannya warga dalam malah menyarankan kami untuk berlibur kesana, katanya disana indah pak, dan kulihat dari sini memang indah pak!.” tanyaku mulai pensaran. “bapak kalau mau kesana silahkan pak, tapi gak usah bawa saya” jawaban nelayan mulai aneh. “lah kami kesana naik apa pak?, kan bapak yang punya kapal?” jawabku ketus. “itu masih banyak kapal disana, cari aja kalau ada yang mau, silahkan. tapi saya gak mau pak!” jawabnya. “ohh baiklah pak, kalau bapak menolak rejeki” jawab edi ketus. “sebentar pak, sebenarnya ada apa pak disana? bapak belum jawab pertanyaan saya” tanyaku mulai spesifik. “intinya saya gak mau kesana, dan saya gak mau menyebut nama pulau tersebut apalagi menjelaskan, jangan paksa saya pak” katanya. “oke-oke maaf pak, kami akan pergi” jawabku. aku mulai merasa apa lebih baik kami kembali daripada terjadi apa-apa dengan kami.

Kami berpindah menuju ke nelayan yang berbeda. “pagi pak!” sapaku. “Selamat pagi bapak-bapak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya kepada kami. “Pak? apakah bapak melihat pulau diseberang sana? kami ingin menuju kesana pak” tanya edi kepada nelayan tersebut. “bagaimana ya pak..” nelayan tersebut mulai berfikir. “kami akan membayar bapak lebih, kalau bapak mau mengantar kami menuju kesana, bagaimana?” edi sedikit memaksa. “sepertinya ada yang bapak fikirkan pak!” tanyaku. “bukan begitu pak, bukan saya tidak mau mengantar bapak-bapak semua, cuma pulau itu memang jarang dikunjungi orang” nelayan tersebut mulai bercerita. “sejak dulu banyak cerita mistisnya pak dipulau tersebut, banyak dari nelayan tidak ada yang mau menuju kesana, ceritanyapun bermacam-macam pak” lanjut si nelayan. “kalau begitu kami ingin kesana pak, kami tidak percaya dengan yang namanya takhayul” sambung edi. Edi memang ingin sekali menuju kesana, karena disana katanya tempatnya indah, kapan lagi bisa kesana pikirku. “Begini saja pak, apakah bapak tetap tidak mau mengantar kami walau kami tambah biaya perjalanannya?” tambahku. “betul pak, kita tambah” sambung edi. “baiklah pak, tapi dengan satu syarat ya pak?” pintanya. “apa itu pak?” tanyaku penasaran. “bapak harus janji tidak mengambil barang apapun sekecil apapun dari pulau itu, bagaimana?” pintanya.”oke, baiklah pak” edi bersemangat.

Akhirnya kami semua bersiap, kami memasukkan barang-barang kami, serta bekal untuk kami semua disana. “bagaimana pak? sudah siap?” tanya nelayan tersebut. “oke pak kami siap semua” serentak tanpa diaba-aba kami menjawab. Saat mulai mendorong kapal menuju pantai, aku mulai merasa keanehan pada pulau tersebut. Disekitaran pantai cuaca sangat cerah, bahkan aku bilang tergolong panas, tetapi mengapa disekitaran pulau tersebut terlihat mendung, “ah ini cuma perasaanq saja”. Kami menikmati perjalanan kami menuju kesana, sambil bernyanyi kami melihat sekeliling. Memang suasananya sangat indah sekali, tapi kami tidak tahu bahaya apa yang sedang menanti kami. Perjalanan kami menggunakan kapal nelayan kecil memakan waktu sekitar satu setengah jam, cukup lama memang dengan kecepatan 50 knot. Bisa diperkirakan jauhnya pulau tersebut dari pesisir pantai. “sebentar lagi kita sampai ” kata nelayan tersebut. “apakah bapak semua mau ditunggu atau saya tinggal pak?” lanjut nelayan tersebut. “ya ditunggu dong pak, kami tidak lama kok pak, hanya berfoto-foto kemudian kembali” sambung edi. “baiklah pak, saya tunggu” kata nelayan tersebut.

Tibalah kami dipulau tersebut. Perasaanku mulai tidak enak, akupun mulai bertanya kepada edi. “ed, kau yakin kita akan masuk pulau ini?” tanyaku. “yakinlah ru, kita sudah sampai sini masak ya iya kita akan kembali” jawabnya. “hemhh..” aku menghela nafas. Kita menurunkan barang-barang yang kita bawa, kemudian kita berjalan menuju ketengah pulau. Entah apa yang ada dipikiranku. Aku melihat sesuatu yang sangat indah sekali.

Akan aku ceritakan di cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *