KISAH PRAJURIT YANG HILANG DI PULAU TAK BERPENGHUNI, DI NEGERI SERIBU PULAU #PART2

Posted on

Setelah perjalanan yang cukup panjang, aku melihat sesuatu  yang membuat aku seperti tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku melihat bongkahan berlian dan tumpukan emas di tengah pulau ini. Kenapa pulau yang indah serta banyak sekali hasil bumi ini tidak sedikitpun terjamah oleh manusia. Apa mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu akan keberadaan pulau ini, pikirku. “ah tidak mungkin orang sekitar sini tidak tahu keberadaan pulau ini” aku semakin bertanya-tanya didalam hati. “wahhh kita bisa kaya” kata edi. “huss jangan mas, kita sudah janji untuk tidak mengambil barang-barang di pulau ini, lagian kita kesini hanya berlibur” aldo mengingatkan. “ah tapi kalau mengambil sedikit saja apa nelayan itu tahu?” sahut edi. “Ed, kamu jangan ngarang-ngarang ya, ini pulau yang masih misterius, tidak mungkin orang sekitar sini tidak ada yang tahu keberadaan pulau ini beserta isinya” jawabku ketus. “ayolah kita berjalan-jalan dipulau ini sejenak, untuk melihat ada apa lagi dipulau ini, mungkin saja banyak harta karun yang lain” terang aldo.

Kamipun mulai menyusuri pulau yang sepertinya tidak besar ini, yang kalau diperkirakan hanya sebesar tiga desa saja. Air sungainyapun sangatlah jernih sekali, seperti tidak pernah terjamah oleh manusia sedikitpun. Akupun melupakan sejenak perasaan hororku yang sedari tadi mengahantui pikiranku, dengan bersenang-senang dan menikmati dengan apa yang aku lihat. Tibalah kami di puncak tertinggi dipulau ini, kami semua kaget ketika melihat sesuatu yang mirip dengan persembahan suku maya. Akupun berfikir, masak iya sih suku maya sampai ke negeri ini. Kami semua mulai mendekati ada apa disekitar sesembahan itu. Ternyata saat dekat benda itu lebih mirip seperti candi-candi agama hindu yang ada di pulau lainnya. Aku semakin penasaran, untuk apa benda ini ada ditengah-tengah pulau yang notabene jauh dari masyarakat. “Aneh sekali kalau benda ini ada di sini” kataku. “mungkin ini peninggalan kerajaan tertua di negara ini” sahut edi. “ah sudahlah ayo kita berjalan lagi” sambung edi. Kamipun mulai berjalan kearah sebaliknya dari arah kami memulai perjalanan. Semakin kedalam pohon-pohon dipulau ini semakin rimbun, karena kami lihat cuaca semakin tidak bersahabat, kamipun memutuskan kembali ke pesisir pantai.

Ditengah perjalanan kami heran, mengapa ada persimpangan jalan, padahal seingat kami tadi jalan setapak hanya satu. “bagaimana ini? kita tersesat!” omonganku meracau. “tenang ru, disini ada jejak kaki, mungkin jejak kaki kita tadi” sahut edi. Edi memang anggotaku yang paling tenang dalam melihat situasi, dibanding dengan yang lain. “okelah kita lewat jalan yang kanan ini, soalnya yang kiri tidak ada bekas jejak kaki kita” jawabku. Kamipun mulai menelusuri jalan itu, entah mengapa pikiranku mulai mengingat-ingat sesuatu yang aku pikirkan dari tadi. “hei ed, kau yakin kita akan kembali?” tanyaku ragu. “yakin ru, tenang saja” jawab edi. “ya kau tenang, aku gak tenang, setan kau ed” jawabku ketus. Kami tetap berjalan mengikuti jalan setapak itu, kemudian ditengah perjalanan aku melihat tempat seperti tumpukan batu rubi yang sangat banyak. “ed, sepertinya kita tadi tidak lewat sini, kau lihat itu, banyak sekali batu rubi yang banyak itu. lebih baik kita kembali” pintaku. ” betul ru, ayo kita kembali” sahut aldo. kemudian kita berlari untuk kembali kepersimpangan tadi, setelah menemukan jalan tadi kita langsung mengambil jalan yang satunya. betul memang jalan yang kita telusuri, tak lama kita sampai dipesisir pantai, dan kita sudah menemukan kapal pengantar kita tadi. “Hai pak, ayo kita kembali” pintaku kepada nelayan. “Ru apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu sebelum kembali, sembari menikmati keindahan pulau ini” pinta edi. tanpa pikir panjang aku meng-iyakan permintaanya. “pak sebentar dulu ya kembalinya, kami beristirahat dulu disini” kataku kepada nelayan. “baik pak, saya tungguin, gapapa pak” jawab nelayan tersebut.

Akhirnya kami menikmati keindahan alam dipulau tersebut, tetapi entah apa yang teman-temanku pikirkan. Apakah salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua ada yang berniat mengambil barang dari pulau tersebut. Entahlah, aku sama sekali tidak mencurigai salah satu dari mereka semua. “ayo pak waktu sudah mulai sore, lebih baik kita kembali sekarang” pintaku ke nelayan tersebut. “yakin pak ya tidak ada yang mengambil satupun barang dari pulau ini?” tanyanya. “yakin pak, ayolah bergegas” sahut edi ketus. Aku melihat keanehan dari edi setiap dia diingatkan untuk tidak mengambil barang dia terus saja menjawab dengan ketus. Kami semua bergegas memasukkan barang kedalam kapal nelayan tersebut, agar kita semua tidak terlambat untuk kembali. Kitapun mendorong kapal ke pinggir pantai, agar kapal kami bisa berlayar. Keanehan pun terjadi, cuaca yang sedari tadi cerah tiba-tiba saja mulai mendung diiringi dengan petir yang menyambar sangat keras. “ayo pak kita bergegas” pintaku ke nelayan. saat kami memulai perjalanan hujan deras pun turun, kami semua kehujanan dan basah kuyup ditengah laut yang luas ini. “bagaimana ini, hujannya tak kunjung reda, mana perjalanan masih jauh lagi” celetuk ku. ombakpun mulai menampakkan kekuatannya. aku tak menyangka ombak ini begitu kencangnya hingga kami harus berpegangan pada bibir kapal agar tidak terlempar. aku terus berdoa agar kami dilindungi dalam perjalanan. “hei, apa kalian yakin tidak ada yang mengambil barang sekecil apapun disana?” teriak nelayan tersebut dibalik derasnya hujan. “saya yakin pak, kami tidak ada yang mengambil” jawabku teriak. “tapi kenapa firasat saya jelek ya pak?” tanyanya lagi. “aku hanya mengambil batu kecil yang aku pikir ini tidak berharga ru” sahut edi. “bangke kamu ed, ngapain kau ambil batu itu? kau mencelakakan kita semua!” amarahku memuncak. “bagaimana ini? sekarang kita terombang ambing ditengah laut, dan perjalanan masih jauh” teriakku. tiba-tiba saja kapal kami menabrak sebuah karang yang besar. “daaarrrrrr” kapal kami terbalik. aku memegang galon yang ada dikapal nelayan itu. aku tidak tahu kemana kapal itu tadi, mungkin sudah hancur bersamaan dengan tabrakan kapal kami dengan karang besar tadi. aku mulai pasrah dengan apa yang terjadi pada diriku, seandainya saja aku tidak ikut, mungkin sekarang aku sedang tidur pulas ditempat tidur. hujan yang sedari tadi deras akhirnya meninggalkanku.

Aku terus berdoa semoga ada keajaiban yang datang padaku, hingga akhirnya setelah dua hari mengapung dilaut. Aku ditemukan oleh kapal tentara yang sedang patroli. Wajahku sudah pucat pasi, aku juga tidak tahu kemana teman-temanku dan nelayan itu berada. aku diangkat oleh kapal patroli, dan aku ditanya bermacam-macam pertanyaan. Aku tidak menjawab satupun pertanyaan, yang ada dipikiranku hanyalah penyesalan. Seandainya dan seandainya, kemungkinan hanya aku sajalah yang hidup. Aku bersyukur masih diberikan kehidupan hingga sampai saat ini, dan bisa menceritakan kejadian yang pahit ini. semoga kalian para pembaca bisa mengambil hikmahnya. terima kasih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *